Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp16.880–Rp16.910 per Dolar AS

Tekanan Dolar AS dan Sentimen Global Bikin Pergerakan Rupiah Masih Volatil

Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp16.880–Rp16.910 per Dolar AS
Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp16.880–Rp16.910 per Dolar AS

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS dalam perdagangan hari ini. Pergerakan mata uang Garuda tersebut dipengaruhi oleh berbagai sentimen global maupun domestik yang masih membayangi pasar keuangan.

Pengamat pasar uang menilai volatilitas rupiah masih cukup tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global serta penguatan dolar AS di pasar internasional.

Rupiah Berpotensi Ditutup Melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan akan cenderung fluktuatif dengan potensi melemah pada penutupan pasar.

Ia menyebut rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS, mengikuti tekanan dari sentimen eksternal yang sedang berkembang.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah tercatat ditutup melemah di level Rp16.886 per dolar AS, turun sekitar 23 poin atau 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Meski sempat menguat di awal sesi perdagangan, tekanan dari dolar AS membuat rupiah akhirnya kembali terdepresiasi menjelang penutupan pasar.

Geopolitik Global Jadi Faktor Utama

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Situasi di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar, terutama setelah adanya gangguan pada jalur perdagangan energi global. Ketidakpastian tersebut membuat investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang dapat berdampak pada stabilitas harga energi dunia dan arus modal global.

Pasar Menanti Data Inflasi Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik, investor juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI) yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Data inflasi tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran baru mengenai kondisi ekonomi AS dan kemungkinan perubahan kebijakan moneter.

Jika inflasi AS tetap tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang biasanya akan memperkuat dolar AS dan memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Rupiah Masih Rentan Volatilitas

Sejak awal tahun, rupiah tercatat mengalami pelemahan moderat terhadap dolar AS. Fluktuasi nilai tukar dipengaruhi oleh kombinasi faktor global seperti kebijakan moneter AS, dinamika geopolitik, serta arus modal asing di pasar keuangan.

Meski demikian, stabilitas ekonomi domestik serta langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valas diharapkan mampu menahan tekanan yang lebih dalam terhadap mata uang nasional.

Pelaku pasar pun disarankan untuk tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, mengingat pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi volatil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *